Skip to main content

Perjalanan Menuju Baduy yang Penuh Makna - Part 1

Bertolak dari Stasiun Tanah Abang menggunakan KRL pukul 05.20, saya bersama 6 orang teman memulai perjalanan pekan ini. Kami menggunakan KRL menuju stasiun rawa buntu untuk bertemu di meet point. Ya, kami tidak mengadakan trip sendiri, kami ikut kedalam open trip yang diadakan oleh Muslim Backpacker. Di stasiun rawa buntu kami bertemu dengan teman-teman lainnya yang mengikuti open trip ini. Mulai dari guru, suami-istri, bahkan anak smk. Dan tidak di sengaja kami bertemu dengan dua orang teman se-alumni yang ternyata ikut trip ini juga.

Dari stasiun Rawa Buntu kami bertolak menuju Stasiun RangkasBitung, dimana itu adalah stasiun paling akhir dari KRL yang kami tumpangi. Dari Stasiun RangkasBitung kami melanjutkan perjalanan menggunakan Elf menuju terminal di desa ciboleger, perjalanan menempuh sekitar 1,5 jam.

Ketika sampai di terminal ciboleger kita akan disambut oleh tugu yang berbentuk orang baduy.

Tugu Selamat Datang Desa Ciboleger
Sesampainya disana kami langsung disambut oleh pemandu asli baduy dalam, namanya adalah kang idong, bersama anaknya yang bernama pulung.

Pulung
Perjalanan kami dimulai, kami berjalan kaki menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 12KM. Di awal perjalanan kami disuguhi oleh toko-toko kelontong warga sekitar. Karena masih dekat dengan terminal ciboleger. 
Situasi sekitar terminal ciboleger

Selanjutnya lebih dalam kami akan melalui desa-desa baduy luar. Cukup banyak desa yang kita lalui, sekitar 4-5 (saya lupa tepatnya). Sepanjang desa baduy luar banyak warganya yang sedang menenun kain di teras rumah. Pemandangan tersebut lumayan membuat kami terpukau.

Salah seorang warga yang bertenun.
Selain itu, mata kami dimanjakan oleh suasana desa-desa baduy luar yang kami lewati, begitu bersih, sejuk dan tengan. Bukan hanya alamnya, warganya pun begitu menenangkan. Sederhana namun bahagia.
Suasana salah satu desa baduy luar.
Perjalanan kami yang cukup jauh harus terpotong oleh istirahat, untuk mengisi kembali energi yang terkuras untuk menikmati segala keindahan yang disuguhkan. Kami makan bersama di salah satu rumah baduy luar, kami menikmati santapan yang disuguhkan dan dimasak oleh mereka. Seperti sebelumnya, sederhana namun nikmat. Tak lupa kami juga melaksanakan solat dzuhur di rumah tersebut.
Kang idong dan sanan ikut selfie di sela-sela kami makan.
Selepas kami mengisi energi dan rohani, kami melanjutkan perjalanan kembali. Kali ini kami melalui kembali desa-desa baduy luar dan juga beberapa sungai. Sungai besar maupun kecil. Di baduy, sungai dijadikan sebagai batas wilayah. Ya bisa dibilang, setiap ada sungai berarti ganti desa. Uniknya, setiap sungai dihubungkan oleh jembatan yang terbuat dari bambu, tanpa paku atau perekat lainnya. Hanya bambu dan bahan alami lainnya. Bahkan untuk sungan yang berjarak hampir 100M mereka menghubungkan jalan dengan jembatan yang terbuat dari bambu saja. Dan, untuk melewatinya hmm... cukup membutuhkan adrenalin yang besar!


Jembatan bambu baduy.
Selepas dari jembatan yang cukup lebar, ada gubuk-gubuk kecil sepanjang jalan. Awalnya kami kira itu adalah rumah, tapi ternyata itu adalah lumbung. Lumbung tempat menyimpan padi. (Di suku baduy, bercocok tanam dengan metode sawah tadah hujan). Dalam bercocok tanam, mereka membuka lahan diantara hutan, dengan membakarnya.


Melalui lumbung-lumbung padi Baduy.
Lumbung nya cukup banyak, dan tidak ada yang menjaga. Mereka sudah saling percaya satu sama lain. Selepas melihat lumbung-lumbung ini, perjalanan selanjutnya sedikit lebih menantang. Karena harus melalui bukit-bukti yang cukup terjal, dan juga melalui lahan yang baru saja dibakar (untuk bercocok tanam). Bahkan ada satu spot yang view nya sangat bagus. Dimana kita berjalan diatas bukit, dengan view bukit-bukit sekitar yang terlihat seperti punuk-punuk kecil.
 
Bukit belakang sekolah, hehe.

Melalui lahan yang habis dibakar.


Ok, sekian dulu. Karena ceritanya masih panjang. Akan saya lanjutkan di postingan selanjutnya.
Terimakasih telah membaca :)



Comments